

Yogya (RE) – Guna penguatan energi ramah lingkungan berbasis masyarakat desa, Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Bank Indonesia (BI) meluncurkan program Serikat Surya Handayani (SSH). Peluncuran dilakukan di aula BMT Ummat Wonosari, Gunungkidul, (7/2/2022).
Rektor UGM, Panut Mulyono, mengatakan program ini merupakan hasil inisiasi Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) UGM dengan Bank Indonesia dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Adapun, warga yang tergabung dalam SSH nantinya akan mengelola PLTS dengan kekuatan 12 ribu watt peak dengan melibatkan kemitraan BMT Ummat, pelaku usaha UMKM, SMK, serta mitra industri di bidang teknologi energi terbarukan.
“PLTS ini nantinya dimanfaatkan untuk mendukung usaha olahan produk biofarmaka dan usaha batik gunungkidul,” kata Panut, Senin (7/2/2022).
Selain itu, PLTS yang merupakan hibah dari BI ini juga digunakan para petani tegan melalui pompa surya berjalan atau mobile solar water pumping system yang akan dapat mengangkat air pada saat musim kemarau.
“Pompa surya ini akan banyak berfungsi di bila sudah musim kemarau, nantinya bisa disewa dengan biaya terjangkau,” ujarnya.
PLTS yang dikelola oleh anggota SSH, menurut Panut, juga akan digunakan untuk mengairi sawah dan memasok kebutuhan air di tempat ibadah.
“Bekerja sama dengan BMT Ummat, PLTS yang dikembangkan oleh UGM ini juga digunakan untuk bisnis air minum yang dikelola oleh anggota SSH. Hasil dari bisnis ini digunakan untuk perbaikan dan perawatan rutin komponen panel surya yang diperkirakan bisa digunakan hingga lebih dari 20 tahun,” jelasnya.
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Arif Hartawan, menambahkan, peluncuran SSH diharapkan mampu menginspirasi daerah lain dalam pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
“Kita harap kegiatan ini menjadi simpul, bisa tersambung dan terintegrasi dengan baik dengan daerah lainnya sehingga bisa menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi baru,” ungkapnya.
Arif melanjutkan, kolaborasi pihaknya bersama UGM melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) selaras dengan pengembangan ekonomi hijau yang dicanangkan oleh Bank Indonesia guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar energi fosil.
“Ekonomi hijau menjadi perhatian pada pertemuan pemimpin G20. Kita memiliki peluang cukup besar karena memiliki sumber energi dari angin, panas bumi dan panas matahari,” tuturnya.
Sementara Bupati Gunungkidul, Sunaryanta, berharap pengembangan energi baru dan terbarukan dapat dioptimalkan penggunaannya pada lahan kering pertanian yang sebagian besar melingkupi wilayah Gunungkidul.
“Di Gunungkidul sekitar 70-80 persen penduduk bekerja di sektor pertanian sehingga EBT bisa optimalisasi untuk lahan kering dan EBT bisa jadi solusi kebutuhan akan pengangkatan air sangat luar biasa,” imbuhnya.
Reporter: Dian / Editor: Arik
Foto: Ryan Ari
Sumber: https://radioedukasi.kemdikbud.go.id/
